Memang Kenapa Jika Aku Berbeda dan Tidak Ingin Berhenti di Dapur?
Aku tidak menolak membantu karena aku tidak peduli. Aku menolak karena aku juga punya hidup. Setiap kali ada acara keluarga, tubuhku selalu diasumsikan akan bergerak ke arah yang sama: ke dapur. Mengangkat, menyiapkan, merapikan. Seolah waktu dan tenagaku selalu tersedia. Seolah tidak ada rencana lain, tidak ada kelelahan, tidak ada kehidupan yang sedang kujalani di luar ruang itu.
Padahal, di luar dapur, aku juga punya kegiatan. Pekerjaan yang kutekuni dengan sungguh-sungguh. Tanggung jawab yang kupilih secara sadar. Mimpi-mimpi yang tidak lahir dari kewajiban keluarga, melainkan dari keinginanku sebagai individu. Namun semua itu seakan lenyap begitu aku melangkah masuk ke rumah. Identitasku menyempit. Aku kembali diposisikan bukan sebagai manusia yang sedang menjalani hidupnya, melainkan sebagai perempuan yang diharapkan untuk membantu.
Di keluargaku, pembagian peran ini jarang sekali diucapkan secara terang-terangan. Tidak ada perintah keras, tidak ada paksaan yang berbunyi. Justru karena itulah ia terasa sulit ditolak. Ia hadir dalam bentuk kebiasaan. Dalam gerak tubuh yang otomatis. Perempuan berdiri tanpa diminta. Perempuan bergerak tanpa ditanya. Sementara laki-laki duduk, berbincang, tertawa ringan, seolah semua yang terjadi di balik pintu dapur bukan urusan mereka.
Sejak kecil, aku menyaksikan bagaimana tubuh perempuan selalu berada dalam posisi siap. Siap membantu, siap mengurus, siap mengalah. Jika ada yang kurang, jika ada yang terlambat, jika ada yang terasa tidak sempurna, sorot mata pertama hampir selalu mengarah ke perempuan. Bukan karena mereka paling bertanggung jawab, melainkan karena sejak awal mereka diajari untuk memikul tanggung jawab itu, bahkan sebelum mereka sempat bertanya apakah mereka menginginkannya.
Di tengah semua pengalaman itu, satu pertanyaan terus bergema di kepalaku: memang kenapa jika aku berbeda? Jika caraku hadir tidak sesuai dengan bayanganmu tentang perempuan. Jika aku tidak ingin berhenti di dapur. Jika aku tidak ingin terus-menerus mengambil peran yang sama hanya demi menjaga kenyamanan orang lain, sementara diriku sendiri perlahan diabaikan.
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun bagi perempuan yang tumbuh dalam sistem patriarki, ia adalah awal dari perlawanan. Perlawanan yang tidak selalu lantang, tetapi jujur. Keberanian untuk mempercayai pengalaman sendiri. Untuk mengakui lelah tanpa rasa bersalah. Untuk mengatakan bahwa tubuh ini bukan alat, bukan pelengkap, dan bukan milik siapa pun selain diriku sendiri.
Perubahan mungkin tidak datang dalam satu malam. Namun ia selalu dimulai dari keberanian kecil. Dari satu perempuan yang memilih untuk tidak lagi diam. Dari satu suara yang menolak dikecilkan. Dari satu tubuh yang perlahan dikembalikan sebagai miliknya sendiri.
Untukku, dan untukmu yang hidup di dalam sistem patriarki: kau hebat, kau kuat. Hanya saja dunia terlalu lama menuntutmu untuk hidup di dalam batas-batas yang disebut kodrat dan tanpa pernah bertanya apakah batas itu adil, atau hanya nyaman bagi mereka yang tidak pernah diminta berdiri dari kursinya.
Social Media Kami